Produksi Film Pekka-NTT: Meraih Pijar Dari Timur

Berdiri di atas panggung diantara ratusan bahkan ribuan penonton dan mendapat tepuk tangan, standing ovation atas sebuah karya film yang telah aku buat menjadi salah satu mimpiku di dunia ini. Dalam beberapa bulan terakhir Seknas PEKKA bekerja sama dengan Biru Terong Initiative untuk membuat sebuah film berskala layar lebar dan berunsur sinematografis. Film ini akan dibuat di pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur, salah satu wilayah Pekka yang mengalami perubahan yang cukup dinamis dalam tatanan nilai sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan cara pandang masyarakat terhadap para perempuan kepala keluarga.

Untuk meningkatkan kapasitas tim video seknas pekka, Vivian Idris selaku sutradara dalam film ini mengundang seorang kameraman kawakan yang telah malang melintang di dunia perfilman, German Mintapraja sebagai mentor beserta asistennya Agni Raraswulan. Betapa beruntungnya bisa bekerja sama dengan orang-orang yang mempunyai pengalaman luar biasa dalam perfilman. 

Never be satisfied, and always push yourself, Do or be willing to keep trying the things people say cannot be done. 

Kami (tim video seknas pekka, Biru Terong, mentor beserta asisten) berangakat bersama-sama dari Jakarta menuju pulau Adonara ke Center Pekka Lodan Doe tepatnya. Dalam perjalanannya kita tidak mengalami hambatan yang berarti hanya jarak yang cukup memakan waktu. Sekitar pukul 18.30 Petang waktu Indonesia timur tim sampai di center Pekka lodandoe dan disambut dengan tarian adat yang seketika lelah dalam perjalanan hilang. Setelah penyambutan selesai tim beristirahat untuk persiapan besok pagi memulai aktifitas.

 

Aku memulai pagi hari dengan berlari pagi disekitar center pekka lodandoe, udaranya sangat segar, bebas dari polusi udara terasa begitu menyegarkan. Pak Haj sapaan bapak German memberi instruksi kepada tim film Pekka Adonara untuk bersiap memulai aktifitas

workshop, dimulai dengan mereview hasil film produksi pekka, banyak masukan yang diberikan oleh pak Haj, aku hanya mendengarkan dan mencatat masukan yang diberikan tanpa perlawanan karena aku berpikir pak Haj adalah sosok yang lebih berpengalaman dibanding aku pribadi meskipun sudah ada beberapa hal yang memang sudah aku ketahui sebelumnya. sudah mengangguk bilang iya, don’t do it dude !

Kemudian tim diinstruksikan oleh pak haj untuk bersiap untuk mengambil gambar kegiatan upacara adat yang diadakan di center Pekka Lodandoe berdasarkan tugas masing-masing. Rasanya sangat menggemaskan melihat tim beraksi dengan kameranya sedangkan aku hanya memonitor audio dan mengontrol sebuah kamera go pro  yang cara kerjanya begitu mudah, tidak ada tantangan yang berarti pikirku. Aku didampingi langsung oleh pak haj untuk memonitor audio dan kamera go pro, akupun tak tahan untuk menceritakan apa yang sedang aku rasakan kepada pak Haj. “Rasanya kaya nggak kerja pak, gampang banget begini

doang”. Lalu pak Haj berkata kepadaku “Kerja tim bukan siapa yang paling banyak kerja, kerja tim bukan siapa yang paling hebat Dam. Tapi kerja tim, fokus kepada tugas yang diberikan untuk menunjang tujuan yang akan dicapai dalam film itu”. Aku coba untuk meresapi kata-kata pak Haj dengan bijak dan menahan ego yang luar biasa. Untuk pekerjaan yang begitu mudah saja aku melakukan dua kesalahan yang mendasar dan aku pikir mungkin ini adalah maksud dari pak Haj “fokus”. Untuk kesalahan yang aku perbuat pak Haj melabeli aku dengan kata “ngehe lu dam”. Hahaha pak Haj so funny

Kemudian di hari yang sama 20 Agustus 2015 workshop dibuka dengan resmi oleh bunda sebagai pembuka dan harapan Vivian terhadap workshop sinematografis ini. Workshop ini begitu menyenangkan, tanpa ada ketegangan sedikitpun, penyampaian materipun dibahas dengan bahasa yang sederhana jadi aku pribadi dapat memahaminya tanpa kesulitan yang berarti.

Untuk kali kedua, tim mempraktekan materi apa yang sudah disampaikan sebelumnya. Settingnya kali ini adalah pasar logaloe di pagi hari. Tim sudah bersiap untuk berjalan menuju pasar Logaloe,  kita berjalan kaki karena letak pasarnya tidak terlalu jauh dari center lodandoe. Ada perbincangan kecil aku dengan pak haj mengenai pendidikan, pak haj berharap betul aku dapat melanjutkan kuliah karena beliau melihat ada potensi yang aku miliki sedikit terharu seorang pak haj yang sudah malang melintang memberikan pujian di pagi hari, itu membuatku semakin semangat. Setiba di lokasi, pak haj memberikan instruksinya kepada tim dan tanpa menunggu, tim bergegas dengan tugasnya masing-masing. Kali ini kerja sama tim lebih rapi dari hari pertama, semua sudah paham akan tugasnya masing-masing dan menahan egonya khususnya untukku pribadi. Aku belajar dengan perangkat audio dan kamera go pro ku, mulai fokus dengan suara-suara yang akan diperlukan nantinya sesuai dengan instruksi yang diberikan pak haj. Di pasar itu aku membeli sirih yang katanya baik untuk kekuatan gigi, aku mencoba mengunyah itu, yeaks rasanya pahiit bukan kepalang, aneh. Setelah selesai tim kembali ke center lodandoe untuk meriview hasil yang didapatkan. Hasilnya cukup mendapat respon yang baik dari pak haj sebagai mentor, intinya tim ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Setelah itu kembali tim memasuki kelas workhsop dan mengenal lebih detail lagi tentang tekhnis penggunaan kamera secara profesional, pembagian kerja tim, mengenal jenis-jenis kamera dan lain sebagainya yang disampaikan oleh pak haj dan juga Agni. Karena ulahku mengunyah sirih, aku tidak dapat merasakan enaknya makanan hari ini semua terasa sepat. Dibalik khasiatnya sirih ternyata ada makna lain yang aku pelajari dari sebuah sirih, yaitu untuk mengurangi nafsu makan karena semua makanan akan terasa sepat.

To be old and wise, you must first be young and stupid

Hari ketiga, tim kali ini turun langsung ke lapangan untuk mengambil gambar saat meminta izin kepada kepala desa Ile Boleng. Amazing!

Adalah kata pertama yang aku ucapkan ketika menapaki kaki di desa ileboleng diatas gunung. Tempatnya begitu eksotis! Aku merasa seperti bintang film yang akan casting “AdonaraJones”, ada beberapa benda-benda yang cukup unik seperti taring babi, patung-patung, pahatan berupa lukisan sejarah desa ile boleng di dinding, dan tentunya pemandangan yang luar biasa mengagumkan, kita berdiri dia tas gunung dan melihathamparan laut yang luas serta bukit-bukit lain seperti kita yang memiliki pulau itu. Kepala desa bercerita tentang musim kemarau yang sedang melanda, persediaan air mereka sudah habis yang mereka tampung selama musim hujan jadi mereka membeli air dari desa yang memiliki pasokan air yang lebih. Sungguh miris mendengar ini seperti tak percaya bahwa mereka menggunakan air hujan yang mereka tampung. Namun mereka mempunyai mimpi agar desa mereka dijadikan tempat wisata, aku setuju dengan pemikiran bapak kepala desa, banyak hal yang bisa dijadikan tempat wisata di pulau adonara ini. Semoga mimpi ini akan terwujud dalam berjalannya waktu. Akhirnya setelah menunggu kedatangan bunda yang agak telat, kepala desa memberikan izin kepada tim film pekka adonara untuk memproduksi film di pulau adonara. Tim dengan sigap menangkap moment ini sebagai salah satu dokumentasi atas izin yang diberikan. Mungkin dalam film ini nantinya juga bisa memperlihatkan ke eksotisan pulau adonara ini dan setiap orang yang menontonya akan tertarik dan datang untuk berwisata ke pulau adonara ini. Akhirnya tim dan juga kepala desa serta jajarannya menyempatkan untuk berfoto bersama.

Be grateful for the small things, big things and everything in beetwen. Count your blessings, not your problem.

Pagi berikutnya sedikit berbeda untukku, aku merasa tidak terlalu semangat dengan “sarapan pagiku” atas kesalahanku. Di hari sebelumnya jacket ku tertinggal di rumah salah seorang warga. Ada yang sedikit berbeda dengan kebiasaan di sini bahwa jalan pergi tidak selalu sama dengan jalan pulang, aku menaruh jaketku di rumah salah satu warga yang aku pikir pulang dari pengambilan gambar akan melewati rute yang sama dengan berangkatnya, tapi ternyata tidak. Aku harus bergegas mengambil jaketku dan teman-teman yang lain menunggu sebentar sementara aku mengambil jaketku. Atas kejadian itu aku ditegur oleh vivian,kemudian ditambah dengan bunda, dan juga  pak haj. Aku merasa dipojokan dengan kesalahan yang menurutku tidak terlalu berat, aku pikir satu orang yang menegur sudah cukup untuk mengingatkan aku jangan mengulangi kejadian seperti itu. Tidak perlu ada hujatan yang berlebihan. Dalam kelas workshop aku menjadi murid yang baik, duduk, diam mendengarkan, tanpa ada celotehan atau pertanyaan dari mulutku. Aku mencoba untuk menelaah hujatan yang aku terima pagi ini, berpikir positif untuk mengembalikan moodku semangatku.

Everybody says mistakes is the first step of success, but the real fact is correction of mistakes is the first step of success.

Hari kelima dan seterusnya adalah tim mulai recee (hunting lokasi) yang akan ada di dalam film pekka adonara. Vivian memimpin perjalanan kali ini, memberikan gambaran hal-hal yang harus diperhatikan, mewawancarai beberapa narasumber yang terkait dalam film pekka adonara ini. Mungkin karena belum adanya skenario tim masih  merasa bingung dan belum ada bayangan mengenai apa yang akan diambil gambar.

Tim film pekka adonara telah menjadi tim yang  siap untuk memproduksi film, kerjasama tim makin terasa dan fokus terhadap tugas masing-masing. Akan diadakan recee kedua pada tanggal 27 September mendatang yang pasti tim lebih siap dengan pengetahuan yang sudah didapat sejauh ini.  Fall in love with the process and the results willcome.

 

 

 

 

 

 

 

 

FaLang translation system by Faboba
Sekretariat Nasional
Jl.Pangkalan Jati V No.3 RT 011/05 Kel.Cipinang Melayu,Kec.Makasar Jakarta Timur Jakarta 13620 Indonesia
Phone: +62 21 860 9325 or 862 8706, Fax: +62 21 862 8706
Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.