Peragaan Busana ala Ibu Rumah Tangga untuk Gaungkan Tenun Tradisional Mamasa

 

Komunitas ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam Serikat Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) Mamasa, Sulawesi Barat, menggelar  fashion show dan festival tenun tradisional Mamasa di Desa Balla Satanetean, Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Minggu (25/3/2018). Pekka optimistis bahwa hasil kerajinan tangan kreatif mereka bisa menembus pangsa pasar nasional dan berharap kegiatan ini bisa menggaungkan hasil tenun tradisional khas Mamasa untuk Nusantara. Puluhan ibu rumah tangga yang menjadi tulang punggung keluarga mereka dengan berprofesi sebagai perajin tenun tradisional Mamasa tampak tak canggung memperkenalkan hasil karya tenun tradisional buatan mereka. Kain tenun itu telah dimodifikasi dengan nuansa modern, tetapi tetap tak meninggalkan ciri khas akar budaya Mamasa.

Layaknya model profesional yang melenggak-lenggok di atas catwalk, ibu-ibu rumah tangga itu dengan percaya diri mempertontonkan hasil tenun kreasi mereka kepada sekitar 150 hadirin di Gedung Gereja Maranatha Balla Kalua dalam pergelaran tersebut.

Susana Rawa Borot, aktivis perempuan yang juga ketua panitia pelaksana fashion show ( peragaan busana), menyebutkan, pergelaran ini menampilkan 10 model gaun tradisional khas Mamasa. Selain itu, ada juga busana tradisional Mamasa yang telah dimodifikasi sehingga tampilannya lebih elegan, modern, dan dinamis. Susana berharap, meski tenun tradisional Mamasa telah dimodifikasi sedemikian rupa, tetapi ia tetap tak melupakan akar budaya Mamasa dengan tetap menampilkan gaun tradisional yang asli dari Mamasa. “Kenapa kita tetap tampilkan busana tradisional asli Mamasa di tengah pergelaran busana modifikasi ini karena kita tidak ingin kehilangan akar budaya Mamasa sebagai basisnya,” jelas Susana Rawa saat ditemui di sela kegiatannya. Komunitas Pekka Mamasa berharap akulturasi budaya modern dan tradisional dalam sebuah karya busana seperti ini bisa digemari siapa saja, di mana saja, dan dalam suasana apa saja.

 

Selain itu, digelar juga rangkaian kegiatan lain, seperti festival tenun serta dialog dalam rangka memperkuat suara dan pengaruh perempuan sebagai kepala keluarga dalam sistem perlindungan sosial. Peragaan busana itu digelar di gedung Gereja Maranatha Balla Kalua, sedangkan pesta tenun dilakukan di tengah perkampungan warga di Balla Kalua, tak jauh dari tempat peragaan busana.

Harapan penyelenggara Direktur Serikat Perempuan Kepala Keluarga, Nani Zulminarni, berharap hal yang dilakukan komunitas Peka Mamasa ini kelak menjadi jembatan dalam menggaungkan produk kerajinan tenun tradisonal dari Mamasa untuk nusantara. Nani juga berharap kegiatan ini dilirik pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat sebagai salah satu aset perekonomian dan budaya. “Apa yang kami lakukan ini bisa menyuarakan aspirasi, khususnya ibu-ibu di Mamasa untuk mendapatkan perhatian lebih banyak dari pemerintah daerah maupun pusat,” ucap Nani Zulminarni. Menurut dia, rangkaian kegiatan ini sebagai bagian dari partisipasi nyata perempuan Mamasa dalam memperkuat suara dan pengaruh perempuan kepala keluarga dalam sistem perlindungan sosial.

 

sumber : https://regional.kompas.com/read/2018/03/25/23203051/peragaan-busana-ala-ibu-rumah-tangga-untuk-gaungkan-tenun-tradisional-mamasa

 

 

 

Demi Masa Depan Anak-Anak Kampung

SENIN (20/2) pagi, lima anak duduk membentuk setengah lingkaran di bangunan menyerupai joglo. Mereka menghadap seorang perempuan sambil membaca Alquran dalam Juz Amma yang mereka hafalkan secara bergiliran. Perempuan itu tidak lain merupakan guru mengaji mereka. Ia memperhatikan setiap bacaan dan menuntun setiap kali di antara kelima anak itu bacaannya putus karena kurang hafal atau salah.


Perempuan itu bernama Lilik Agustina. Setiap hari ia mendampingi anak-anak di kampungnya belajar dan menghafal Alquran. Kegiatan itu ia lakukan setiap hari kecuali malam Jumat dan Jumat pagi. "Selepas magrib untuk mereka yang belajar mengaji, sedangkan pagi untuk yang mulai menghafal," katanya lembut saat ditanya soal kegiatannya. Bu Lilik, demikian perempuan 43 tahun itu biasa dipanggil, setiap pagi mengajar mengaji atau disebut niteni hafalan sebelum ia mengajar.


Lilik mengajar di pendidikan anak usia dini (PAUD) dan dilanjutkan di madrasah diniah. Semua tempat mengajarnya itu ialah bagian dari Lembaga Pendidikan Islam Nurul Iman yang didirikan orangtuanya, KH Ali Wafa. Tidak hanya itu, lokasinya pun tepat di depan rumahnya di Desa Banjar Tabulu, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Kecintaan Lilik akan dunia pendidikan anak-anak muncul setelah suaminya, Sarini, meninggal karena sakit.


Apalagi saat itu ia tengah mengandung anak semata wayangnya, Ibnu Subakti. Di usia kandungan yang baru enam bulan itu, Lilik memilih tinggal bersama orangtuanya selama hampir 10 tahun. Baru setelah orangtuanya pindah ke rumah baru, ia mulai hidup mandiri meski sebagian kebutuhan hidupnya dibantu orangtua, termasuk biaya pendidikan anaknya. Kini Ibnu sudah dewasa dan menikah serta memiliki dua anak. Semua tinggal bersama di rumah Lilik.


"Waktu itu saya hanya membantu mengelola sawah orangtua yang tidak seberapa sambil beternak kecil-kecilan," kenangnya.
Saat itu, lanjut Lilik, ia tidak memiliki kegiatan lain. Ia pun mulai mengajar mengaji di musala depan rumahnya. Musala yang sama ketika ia kecil belajar Alquran. "Sejak saat itu, saya mulai menaruh perhatian pada anak-anak. Semua saya anggap sebagai anak sendiri yang membutuhkan kasih sayang meski kedua orangtua mereka masih ada," jelasnya.


Pendidikan
Bagi anak-anak di kampungnya, pendidikan bukan barang mudah. Pasalnya kehidupan ekonomi warga Desa Banjar Tabulu termasuk terbelakang. Hingga 2009, KH Ali Wafa memutuskan untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam. Ayahnya pun mengangkat Lilik menjadi salah satu pengajar di madrasah diniah, sebuah jenjang pendidikan dasar nonformal khusus keagamaan.


Kini lembaga pendidikan itu sudah menjadi madrasah ibtidaiah (setingkat sekolah dasar), madrasah sanawiah (setingkat sekolah menengah pertama), dan madrasah aliah (setingkat sekolah menengah atas). Namun, Lilik tetap memilih mengajar di madrasah diniah. "Saya tak memenuhi syarat untuk menjadi guru di lembaga formal itu karena tidak memiliki ijazah yang memadai," katanya lirih.


Maklum, wanita yang juga aktif sebagai kader posyandu dan bendahara desa di Banjar Tabulu itu hanya berijazah Paket A.
Di lembaganya itu, ia hanya mengajar di PAUD yang baru terbentuk beberapa tahun lalu. Meski demikian, ia merasa bahagia bisa mengajar di PAUD dan di lembaga pendidikan nonformal. Ia masih memiliki waktu untuk aktif di kegiatan sosial lainnya, termasuk di Program Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) yang diikutinya sekitar delapan bulan lalu.
Meski awalnya ragu bergabung dengan Pekka karena merasa tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, Lilik akhirnya memutuskan bergabung. Ia mengetahui Pekka dari sahabatnya, Siti Rahma. Siti memperkenalkannya kepada koordinator Pekka di Kabupaten Sampang saat mengikuti kegiatan di Kantor Kecamatan Camplong. "Bagi saya, pengabdian tidak dilihat dari status ataupun tempat, tetapi sejauh mana bisa memberikan sumbangan hal yang positif bagi lingkungan," jelas dia.


"Yang paling penting, saya bisa menyumbangkan kemampuan saya untuk masa depan anak-anak di kampung ini," sambungnya. Koordinator Pekak Kabupaten Sampang, Siti Rahma, menilai sosok Lilik Agustina merupakan figur yang sangat cinta pada pendidikan anak-anak. Kesibukannya pada kegiatan sosial di desanya tidak mengurangi perhatiannya pada tugas sebagai guru PAUD dan madrasah diniah. "Pendidikannya tidak seberapa, tapi kepeduliannya kepada masa depan anak-anak sangat patut menjadi contoh," kata Siti Rahma.

Mediaindonesia

Tika Kartika Mengubah Paradigma Lewat Paud

MESKI berada di permukiman padat Kampung Sindangsari, Kecamatan Cipanas, Jawa Barat, tidak sulit menemukan lokasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kartika Mandiri. Para penghuni wilayah dengan gang yang hanya selebar satu motor itu tampak mengenal betul keberadaan PAUD tersebut. PAUD Kartika Mandiri menempati lantai satu di rumah dua lantai sederhana. “Mangga kelebet (silakan masuk),” sapa seorang perempuan berjilbab abu-abu, saat Media Indonesia datang, Sabtu (14/1).

Ia adalah Tika Kartika, pendiri PAUD tersebut. Selain spanduk di muka rumah, ciri khas PAUD dihadirkan lewat cat tembok warna-warni di lantai bawah seluas 15 meter persegi itu. Namun, selebihnya, tidak banyak alat bantu ataupun alat peraga seperti yang ada di PAUD-PAUD perkotaan. Kesederhanaan memang lekat di sana, tetapi kisah di baliknya jauh dari sederhana. Kisah itu lahir dari keprihatin­an dan pengorbanan Tika untuk menumbuhkan kesadaran pendidikan di kampung itu. “Saya lihat aktivitas anak usia dini di sini setiap harinya hanya bermain tanpa ada sesuatu yang bisa bermanfaat bagi tumbuh kembang pendidikan mereka,” kenang Tika tentang kondisi sebelum pendirian PAUD pada 2008.

Meski hanya berjarak sekitar 200 meter dari simbol keme­gahan pemerintahan, yakni Istana Cipanas, warga kampung tersebut nyatanya memang minim akan kesadaran pendidikan. “Mayoritas penduduk di sini (Kampung Sindangsari) kalangan menengah ke bawah. Mereka berpikir pendidikan itu tidak terlalu penting. Makanya, rata-rata warga di sini berpendidikan lulusan SD dan SMP,” tambah Tika yang kala itu merupakan warga baru. Ketiadaan pendidikan bagi anak usia dini membuat ibu tiga anak itu pun ingin membuat perubahan. Terlebih ia memiliki bekal keterampilan PAUD yang diperoleh dari keterlibatannya pada Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) yang merupakan program dari Komnas Perempuan, Bank Dunia, dan Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita.

Perempuan yang hanya mengantongi ijazah paket C itu mulai menyebarkan ide pendirian PAUD ke warga. Bukan perkara mudah karena karakter warga yang sangat terpe­nga­ruh oleh kebiasaan umum. “Kalau dalam istilah orang Sunda, di sini disebut emoh (lenguh) sapi. Satu ikut, semua ikut. Yang satu tidak ikut, semua pasti tidak ikut,” kelakar perempuan berusia 44 tahun itu soal paradigma di kampungnya. Meski begitu, dengan semangat tinggi, akhirnya ajakannya disambut warga. Namun, kendala tempat muncul seiring dengan jumlah anak usia dini yang ternyata cukup banyak, 60 orang. Tidak ingin idenya pupus, perempuan yang aktif di Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Cipanas itu merelakan lantai satu rumah kontrakannya. Ia dan keluarga ikhlas hidup berdesakan di lantai atas.

http://mediaindonesia.com

Pekka Gelar Isbat Nikah di Teluk Pakedai

KUBU RAYA – Pelayanan terpadu isbat nikah yang dikoordinasi oleh Serikat Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) untuk menyelesaikan persoalan hukum bagi pasangan suami istri (pasutri) yang menikah di bawah tangan telah selesai dilaksanakan, di Gedung Serba Guna Desa Sungai Deras, Selasa (27/12/2016).

Kegiatan terakhir digelar di tahun 2016 ini diikuti oleh 55 pasangan suami istri (pasutri).

Dari hasil pemeriksaan sidang isbat nikah oleh hakim PA Mempawah, 49 perkara dikabulkan, 3 perkara ditolak dan 3 perkara lagi digugurkan. Bagi yang perkaranya dikabulkan langsung diberikan akta nikah oleh Kantor Urusan Agama (KUA) dan diberikan akta kelahiran oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil).

“Dalam kegiatan ini telah dikeluarkan 55 penetapan Pengadilan, 98 akta nikah untuk masing-masing suami istri dan 193 akta kelahiran,” kata Fasilitator Lapang Pekka, Diana Lestary, seusai pelaksanaan pelayanan terpadu di Gedung Serba Guna Desa Sungai Deras, kemarin.

Diana sebagai koordinator pelaksana kegiatan megucapkan terima kasih kepada para hakim PA Mempawah, petugas Dukcapil dan Pegawai Pencatat Nikah (PPN) KUA yang telah bekerja sama melaksanakan pelayanaan terpadu.

"Semoga pelaksanaan isbat nikah ini bisa terus memberikan prbaikan administrasi terhadap masyarakat. Karena kelengkapan dokumen nikah ini sangat penting keberadaannya," pungkas Diana.

 

http://pontianak.tribunnews.com/

Aisah,Aktivis Kita


SAAT ditinggal sang suami tanpa kabar dengan anak berusia 8 bulan disampingnya, Ai Aisah, 38, perempuan asal Dusun II Desa Kalibuaya, Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, limbung. Namun, kondisi itu menjadi titik awal kebangkitannya menjadi perempuan berdaya.

"Saya lulus SD pada 1990, langsung ikut pesantren, dan tiga tahun lalu bekerja pada perusahaan tekstil di Jakarta. Sepuluh tahun kerja, saya disuruh pulang, kemudian menikah pada 2003. Saat anak saya berusia 8 bulan, suami kena PHK. Kemudian dia beralasan cari kerja di kampungnya di Sumatra dan meninggalkan saya serta anak, Muhammad Irwansyah, hingga saat ini tanpa kabar. Jadi, anak saya tidak pernah tahu wajah ayahnya," ujar Aisah kepada Media Indonesia, Senin (23/1), di kantor Sekretariat Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) Karawang.

Selengkapnya: Aisah,Aktivis Kita

FaLang translation system by Faboba
Sekretariat Nasional
Jl.Pangkalan Jati V No.3 RT 011/05 Kel.Cipinang Melayu,Kec.Makasar Jakarta Timur Jakarta 13620 Indonesia
Phone: +62 21 860 9325 or 862 8706, Fax: +62 21 862 8706
Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.