Please wait...

Buku

Prespektif Keadilan dalam Hukum Keluarga Islam bagi Penguatan Perempuan Kepala Keluarga
Dalam perspektif Islam, secara teologis tidak ada satu pun ayat maupun hadis yang bermaksud membenarkan menjadikan perempuan dan anak sebagai…
Prespektif Keadilan dalam Hukum Keluarga Islam

Prespektif Keadilan dalam Hukum Keluarga Islam bagi Penguatan Perempuan Kepala Keluarga

Dalam perspektif Islam, secara teologis tidak ada satu pun ayat maupun hadis yang bermaksud membenarkan menjadikan perempuan dan anak sebagai objek kekerasan dan penindasan di dalam rumah tangga. Dalam penciptaannya, Tuhan menjadikan manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan kapasitas dan peluang yang sama sebagai hamba Allah, untuk beribadah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Selain itu, menerima mandat yang juga sama yaitu untuk menjadi pemimpin (khalifah) di muka bumi. Namun realitas yang kita hadapi belum sebagaimana yang diharapkan. Perempuan baik sebagai individu maupun sebagai istri seringkali tidak berdaya di dalam perkawinan, posisinya jauh dari konsepsi yang dikendaki Allah. Konstruksi sosial yang mendasarkan nilai-nilainya pada pemikiran keagamaan pun tanpa disadari turut melanggengkan budaya partriarkhis yang opresif terhadap perempuan.

Alhamdulillah kini telah hadir di tengah kita modul lokakarya Prespektif Keadilan dalam Hukum Keluarga Islam bagi Penguatan Perempuan Kepala Keluarga yang dibuat atas kerjasama antara Alimat dan Pekka (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga). Modul ini dibuat setidaknya dengan dua alasan. Pertama, modul ini telah mempertimbangkan kondisi khusus perempuan, baik dari substansinya maupun metode penulisannya, karena berangkat dari pengalaman keseharian yang ditemukan dari lapangan oleh teman-teman Pekka yang mendampingi anggotanya dalam menghadapi ketidakadilan dalam keluarga. Khususnya dalam realitas (konteks) kehidupan keluarga yang masih jauh dari semangat keadilan sebagaimana yang disyariatkan maupun yang dicita-citakan dari tujuan pernikahan dalam Islam. Dari pengalaman tersebut Alimat mencoba menjembatani antara teks, baik bersumber dari Al-Quran maupun hadis dengan konteks kehidupan yang menjadi temuan Pekka maupun yang dialami oleh masyarakat pada umumnya sebagai konteks kekinian yang argumentatif, untuk memaknai kembali teks-teks tersebut menjadi bersenyawa dengan konteks yang hidup sepanjang masa. Metodenya dengan memaknai kembali (reinterpretation) atau membuat rumusan baru dengan makna baru (reconstruction) yang mungkin belum/tidak terpikirkan baik oleh para mufassir maupun fuqaha di masa lalu. Rasanya modul ini lebih utuh dalam memadukan antara teori atau kaidah-kaidah fikih (al-qawaaid al fikihiyah) dengan alternatif yang sesungguhnya telah lama kita tunggu untuk mengoptimalkan peran Alimat dan anggota Alimat yang sebagian besar memiliki latar belakang keilmuan yang memadai dan insya Allah memiliki otoritas sebagai mujaddid setidaknya di bidang tafsir dan fikih (hukum Islam). Dalam hal tersebut, Alimat dan anggotanya termasuk di dalamnya Pekka memiliki perang yang sangat strategis sebagai agen perubahan (the agent of change) dalam upaya menegakkan keadilan dalam keluarga khususnya di kalangan masyarakat muslim.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

EN ID