Please wait...

Cerita Dari Lapang

Dialog yang mengambil tema “Memperkuat Suara dan Pengaruh Komunitas Perempuan Kepala Keluarga dalam Sistem Perlindungan Sosial” tersebut diadakan di Aula Kantor Camat Simtim. Acara yang diselenggarakan pada  Selasa, 18 September…
FORUM PEMANGKU KEPENTINGAN (FPK) PERLINDUNGAN SOSIAL

Dialog yang mengambil tema “Memperkuat Suara dan Pengaruh Komunitas Perempuan Kepala Keluarga dalam Sistem Perlindungan Sosial” tersebut diadakan di Aula Kantor Camat Simtim. Acara yang diselenggarakan pada  Selasa, 18 September 2018 tersebut dihadiri oleh Kantor BPJS, Bappeda, P3AKB, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Kepala Desa, dan Serikat Pekka. Tujuan dialog ini adalah membangun komunikasi dan jaringan kerja sama dengan para pemangku kepentingan terkait program perlindungan sosial di Kabupaten Simeulue, membahas usulan kebijakan pemerintah daerah tentang partisipasi Serikat Pekka dalam sistem pemantauan program perlindungan sosial di Kabupaten Simeulue.

Dari temuan PEKKA, ada beberapa penyebab mengapa sebagian perempuan belum bisa menikmati program perlindungan sosial. Pertama adalah sistem informasi yang tertutup, seperti persyaratan yang sulit dan buruknya tata kelola pelaksanaan program di tingkat desa. Misalnya program beras untuk keluarga miskin (Raskin) dibagikan secara merata kepada seluruh penduduk desa dengan alasan untuk menghindari konflik, akibatnya perempuan miskin dan marjinal yang ada di Desa atau kelurahan jatahnya menjadi berkurang. Rendahnya akses perempuan miskin dan marjinal atas pelayanan publik seperti kesehatan, pendidikan, pekerjaan layak dan bebas eksploitasi, dokumen-dokumen administrasi kewarganegaraan berdampak pada sulitnya masyarakat mengakses perlindungan sosial. Salah satu upaya yang dilakukan Pekka adalah memfasilitasi kepemilikan legal identitas seperti KK, KTP, akta kelahiran, akta perkawinan/ buku nikah, dan lainnya melalui sidang pelayanan terpadu, sidang keliling dan KLIK PEKKA.

 

Secara khusus di Pulau Siumat ditemukan bahwa kebanyakan penduduknya adalah orang Nias. Mereka banyak yang belum memiliki legal identitas dan mendapatkan akses perlindungan sosial. Saat sakit pun sulit untuk mendapatkan akses kesehatan karena selain jauh, transportasi sulit dan medan yang sulit karena meski menempuh ombak dan angin saat cuaca buruk.

Cut Putri Handayani dari Dinas Kesehatan dalam kesempatan tersebut menginformasikan tentang adanya rujukan online di dua kecamatan yaitu Puskesmas Simeulue Timur dan Puskesmas Tepa Tengah dan menjelaskan  Program Indonesia Sehat melalui pendekatan keluarga. Pendekatan keluarag adalah salah satu cara Puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan meningkatkan akses pelayanan kesehatan dengan mendatangi keluarga di wilayah kerjanya. Ada 12 indikator dalam pelaksanaan PIS sebagai penanda status kesehatan keluarga. Berdasarkan indikator tersebut dilakukan penghitungan Indeks Keluarga Sehat. Cut Putri juga menyampaikan  adanya program Asuhan Mandiri (Taman Toga) melalui kelompok seperti Dasawisma. Kelompok Pekka diharapkan ikut terlibat dan hal ini akan dikomunikasikan ke desa untuk melatih kader untuk mengenal obat-obatan tradisional. Tanaman obat keluarga bisa dimanfaatkan sekaligus menambah ekonomi masyarakat.

Ridwansyah dari Disdukcapil mengungkapkan kegembiraannya karena saat ini lebih banyak masyarakat pulau yang mendapatkan informasi tentang kepengurusan adminduk gratis berkat serikat Pekka. Dalam kesempatan tersebut Sekretaris Camat Simeuleu Timur menyatakan bahwa program Pekka merupakan suatu terobosan yang baik, dia mendukung penuh dan siap memfasilitasi tempat jika diperlukan. Dia juga berharap Pekka tidak hanya dikembangkan di 7 desa saja tetapi ke 17 desa yang ada di Kecamatan Simeulue Timur.

Kontributor : Asmi JWP (Simeulue, Aceh)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

EN ID