Please wait...

Cerita Dari Lapang

Mu’arofah adalah seorang perempuan kepala keluarga yang berstatus janda beranak 1 dari Desa Jangkar, Kecamatan Tanah merah, Kabupaten Bangkalan. Usia pernikahannya hanya berjalan 4 tahun, saat itu dia dalam kondisi…
MU’AROFAH DARI BANGKALAN

Mu’arofah adalah seorang perempuan kepala keluarga yang berstatus janda beranak 1 dari Desa Jangkar, Kecamatan Tanah merah, Kabupaten Bangkalan. Usia pernikahannya hanya berjalan 4 tahun, saat itu dia dalam kondisi tidak bekerja karena menurut tradisi setempat perempuan bersuami tidak boleh bekerja dan lebih diwajibkan melakukan tugas sebagai ibu rumah tangga. Saat bercerai, masyarakat menganggap sebagai suatu hal yang wajar karena Muarofah punya keturunan bercerai. Orang tua Muarofah pernah bercerai hingga 5 kali. Masyarakat disekitarnya selalu mencemooh, ketika dia pergi orang menyangka jika dia akan mencari pengganti dan menjajakan diri diluar untuk mengisi kesepian. Agar tidak terpuruk lebih dalam, adiknya berinisiatif menguliahkannya. Namun, gunjingan masyarakat tentang dirinya justru semakin kuat karena lebih sering pergi keluar untuk kuliah. Setelah menyelesaikan kuliah dan mengajar, barulah masyarakat percaya bahwa selama ini dia kuliah.

 

Saat program Pekka masuk ke desanya, dia tertarik ikut Pekka karena di desanya banyak janda yang tidak bisa baca tulis. Sebagai orang yang pernah kuliah dan bekerja sebagai pengajar, dia tergerak membantu untuk memberikan materi KF (Keaksaraan Fungsional).

 

Bagi Klebun (kepala desa di madura) kelompok Pekka dianggap lemah dan tidak punya kekuatan, dia tdak erduli dengan apa yang dilakukan Pekka. Dia menganggap Pekka bisa apa, setinggi apapun perempuan bersekolah urusannya adalah seputar rumah tangga, tugas mengurus masyarakat adalah urusan laki-laki. Pekka dianggap tidak akan bisa membantu mendampingi masyarakat dalam proses kasus kekerasan terhadap perempuan, pembuatan identitas diri (itsbat nikah, akta cerai, KK, KTP serta akta lahir) dan jaminan kesehatan.

 

Menurutnya perubahan yang paling berkesan baginya adalah keberaniannya bernegosiasi dengan pemerintahan daerah. Dulu dia tidak pernah berurusan dan tidak berani bertemu dengan orang-orang pemerintah, setelah di Pekka karena banyaknya peluang untuk banyak belajar, melakukan kunjungan dan bertemu dengan pemerintah timbulah rasa percaya diri dan lebih berani untuk menyampaikan permasalahan masyarakat ke pemerintah. Selain mengajar KF, saat ini dia juga bisa memberikan materi tentang kesehatan, hukum, perlindungan sosial, ekonomi kepada anggota kelompok Pekka dan masyarakat.

 

Ada pengalaman menarik yang tak terlupakan saat dia melakukan kunjungan awal ke Dinkes, dia merasa dipermainkan oleh resepsionis karena setelah menunggu lama kemudian dikatakan bagian jaminan sosial dan pelayanan kesehatan tidak ada ditempat. Sebelum pulang, saat mampir ke kantin kebetulan ada beberapa pegawai Dinkes disana, dia menanyakan tentang keberadaan orang yang dituju, pegawai Dinkes tersebut mengatakan jika orang-orang tersebut ada di tempat. Kemudian Muarofah pun pergi lagi ke dalam kantor Dinkes diantar pegawai dnkes tersebut menuju ruangan jaminan kesehatan dan pelayanan. Orang pertama yang ditemui Muarofah saat itu adalah ibu Retno. Muarofah berkunjung ke Dinkes  untuk mendaftarkan anggota Pekka yang belum memiliki kartu BPJS PBI, mungkin dari mereka ada solusinya. Hasilnya ajuan BPJS PBI tersebut di follow up melalui program “SEHATI (Sehat Bersama Bupati)” dan sudah keluar kartu 50 % dari total ajuan 141 KK. Program SEHATI adalah program jaminan kesehatan dari daerah Bangkalan.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

EN ID