Please wait...

Cerita Dari Lapang

Di tengah Pandemi Covid-19, sejumlah perempuan yang menjadi kepala rumah tangga berusaha bertahan. Mereka tidak mengenal menyerah untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ini gambaran Kartini masa kini.

Partini (43), warga…
Kartini Masa Kini di Tengah Pandemi

Di tengah Pandemi Covid-19, sejumlah perempuan yang menjadi kepala rumah tangga berusaha bertahan. Mereka tidak mengenal menyerah untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ini gambaran Kartini masa kini.

Partini (43), warga Desa Dongko, Kecamatan Dongko, Trenggalek, Jawa Timur, merasakan, betapa pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Selama ini dia mengelola usaha pembuatan batik shibori bersama sejumlah perempuan di lingkungannya. Hasilnya lumayan dan cukup untuk menghidupi dua putrinya, masing-masing berusia 18 tahun dan 9 tahun.

Namun, sejak virus korona baru mendera Indonesia, bahkan hingga ke pelosok desa, usaha Partini anjlok. Pesanan yang biasanya mengalir, tiba-tiba berhenti. Sempat gagap, tapi dia tak menyerah.

Melihat masker sulit dipasaran, Partini coba membuat kain penutup hidung dan mulut itu. Stok batik shibori dipotong, dijahit jadi masker. Awalnya, produk itu dibagikan gratis untuk ibu-ibu tetangganya. Belakangan, pesanan berdatangan, termasuk dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Trenggalek dan camat Dongko.

Masker dijual antara Rp 6.000 sampai Rp 9.000 per buah. Usaha ini bisa menyokongnya bertahan sekaligus menolong sesama. “Dulu cari masker susah, sekarang lebih gampang,” kata Partini, saat dihubungi, Senin (20/4/2020).

Semangat serupa diperlihatkan Kurnati, perempuan asal Pemalang, Jawa Tengah. Dia mulai menjahit masker saat stoknya produk itu kosong, sementara permintaan melonjak. Hasilnya pun lumayan. “Dalam ekonomi sulit, kita harus tetap semangat untuk sehat dan bertahan hidup,” katanya.

Perubahan hidup juga dilakoni Arfiana Khairunnisa (34), communication officer di lembaga non-profit di Jakarta. Dia ngantor di di kawasan Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Pusat, antara pukul 09.00 sampai 17.00. Begitu ada wabah Covid-19, orang tua tunggal dari satu anak (berusia 5,5 tahun), ini bekerja di rumah.

Sambil kerja, dia mengajak anaknya bermain atau belajar, juga tak lupa mengurus pekerjaan rumah. Ritme keseharian berubah. Banyak tugas kantor yang lazim digarap siang, kini mesti dituntaskan malam setelah anaknya tidur.

“Dengan situasi serba tidak pasti ini, paling penting adalah bisa menyesuaikan diri agar bisa bertahan,” katanya.

Covid-19 juga memukul Darsi (41), pedagang kopi keliling, di Jalan Arteri Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ibu dua anak ini jualan dengan mengandalkan sepeda motor yang dimodifikasi menjadi gerobak kopi. Di tengah pandemi, dia merasakan betul, omzet dagangannya terjun bebas dari Rp 150.000 per hari, sekarang bisa mencapai Rp 0 per hari.

“Kemarin, saya mendapatkan uang Rp 45.000. Setelah dipakai untuk membeli bensin Rp 25.000, penghasilan saya hanya Rp 20.000. Hidup serba sulit. Karantina di dalam rumah membuat depresi, bekerja cari uang juga sulit,” ujar perempuan asal Sragen, Jawa Tengah itu.

Sudah dua bulan terakhir dia menunggak bayar sewa kontrakan di Gang Pancong, Jakarta Utara, Rp 300.000 per bulan. Ibu yang mengasuh dua anak ini juga kesulitan membayar listrik Rp 200.000 per bulan. Untuk berbelanja makanan, membayar uang sekolah anaknya, dan mengisi paket data telepon genggam agar anaknya bisa belajar secara virtual ia juga tak sanggup. Darsi juga absen mengirim uang ke kampung halaman yang biasanya besarnya Rp 1.000.000 per bulan.

Beruntung, Darsi bisa menjahit. Beberapa hari terakhir, ia mendapatkan order menjahit 50 buah masker. Lumayan, dia bida megantongi uang Rp 100.000. “Kemarin, pas banget token listrik saya habis, saya mendapat uang dari menjahit masker. Uang itu langsung saya pakai membeli token listrik,” katanya semeringah.

Perempuan andalan

Menurut Pendiri dan Ketua Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) Nani Zulminarni, terdapat sekitar 65.000 anggota Pekka di 20 provinsi dan 87 kabupaten atau kota di Indonesia. Survei Sistim Pemantauan Kesejahteraan Berbasis Komunitas (SPKBK) oleh Sekretariat Nasional Pekka bersama SMERU, pada tahun 2012 mencatat, dalam setiap empat keluarga, terdapat satu keluarga dikepalai oleh perempuan.

Mereka menjadi kepala keluarga karena berbagai sebab. Ada yang lantaran suami meninggal, bercerai, ditinggal suami begitu saja, tidak atau belum menikah, suami berpoligami, suami merantau, suami sakit permanen atau suami yang tidak bekerja. Dengan berbagai jenis profesi, mereka menjadi tumpuan hidup bagi anak-anaknya.

Pandemi Covid-19 membuat para perempuan kepala keluarga itu kesulitan. Penghasilan mereka berkurang, bahkan hilang. Soalnya, kebanyakan mereka bekerja di sektor informal yang mengandalkan upah harian. Mereka pedagang kecil, buruh tani, pembantu rumah tanggal, jualan makanan, membersihkan kebun, tukang pijet, dan pengrajin. “Kebijakan tinggal di rumah menghilangkan sumber penghasilannya,” kata Nani.

Kendati demikian, para perempuan itu tetap bertahan dengan berbagai cara. Ada yang membuat masker, menjadi satgas pencegahan, mengembangkan kegiatan pertanian, atau membuat lumbung pangan. Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini 21 April 2020 ini, puluhan ribu perempuan kepala keluarga terus berjuang di tengah pandemi.

sumber : kompas.com

Comment ( 1 )

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

    Ida Farida Noer

    Maju terus para perempuan Indonesia, sepanjang hayat masih di kandung badan selama itu pula semangat kita akan terus berkobar. Percayalah setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan dan setelah gelap pasti akan terang.

    Reply

EN ID